Rabu, 20 Februari 2013

Pandangan Orientalis terhadap Al-Qur’an "Toshihiko Izutsu"



Kajian orientalis terhadap al-Qur’an tidak sebatas mempertanyakan otentisitinya. Isu klasik yang selalu diangkat adalah soal pengaruh Yahudi, Kristian, Zoroaster, dan sebagainya terhadap Islam maupun isi kandungan al-Qur’an (‘theories of borrowing and influence’). Ada yang berusaha mengungkapkan segala yang boleh dijadikan bukti bagi ‘teori pinjaman dan pengaruh’ tersebut, seperti dari literatur dan tradisi Yahudi-Kristian (semisal Abraham Geiger, Clair Tisdall, dan lain-lain), dan ada pula yang membandingkannya dengan adat-istiadat Jahiliyyah, Romawi dan lain sebagainya. Biasanya mereka mengatakan bahwa cerita-cerita dalam al-Qur’an banyak yang keliru dan tidak sesuai dengan versi Bible yang mereka anggap lebih akurat. Sikap anti-Islam ini tersimpul dalam pernyataan negatif seorang orientalis Inggris yang banyak mengkaji karya-karya sufi, Reynold A. Nicholson: “Muhammad picked up all his knowledge of this kind [i.e. al-Qur’an] by hearsay and makes a brave show with such borrowed trappings–largely consisting of legends from the Haggada and Apocrypha.” Walau bagaimanapun, segala upaya mereka ibarat buih, muncul dan hilang begitu saja, tanpa pernah berhasil merubah keyakinan dan penghormatan mayoritas Umat Islam terhadap kitab suci al-Qur’an, apatah lagi membuat mereka murtad.[1]
Alasan penulis memilih tokoh ini karena buku karya Toshihiko Izutsu ini menurut penulis merupakan sumbangan berharga dari Prof. Izutsu terutama untuk ummat islam dan peminat studi etika religius pada umumnya. Dan yang menjadi alas an juga bahwa adanya kesulitan bagi penulis dalam menemukan referensi akan tokoh-tokoh lain yang membahas tentang Al-Qur’an atau yang membahas judul lainnya.
Adapun rumusan masalah dari latar belakang yang penulis paparkan di atas antara lain adalah:
-          Bagaimana biografi Toshihiko Izutsu?
-          Bagaimana metodologi penggunaan pendekatan semantik dalam karya Toshihiko Izutsu Relasi Tuhan dan Manusia ?
-          Apa pengertian dan fungsi semantik dalam metode penafsiran al-Qur’an ?      
pemikiran Al-Qur’an yang sangat alami perlu bagi kita untuk membedakan antara tiga lapis risalah normal. Dengan kata-kata lain ada tiga kategori konsep etis yang berlainan dalam Al-Qur’an, yakni:  yang mengacu dan menggambarkan sifat etis dari Tuhan; kemudian yang menggambarkan berbagai aspek dari sifat manusia yang fundamental terhadap Tuhan; dan yang mengacu kepada prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah tingkah laku yang mengatur hubungan etis diantara individu-individu yang memilikinya, dan hidup di dalamnya, sebagai komunitas agama Islam.[2]
Kelompok pertama tersusun dari apa yang dinamakan “nama-nama Tuhan”: kata-kata seperti pemurah, penyayang, pengampun, adil, agung, menggambarkan aspek khusus dari tuhan. Kelompok aspek-aspek ini yang kemudian dikembangkan oleh para teolog kedalam sebuah teori atribut-atribut ketuhanan dan yang bisa digambarkan secara jitu sebagai etika ketuhanan.
Kelompok yang kedua berkaitan dengan hubungan etis mendasar antara manusia dan tuhan. Kemudia untuk kelompok yang ketiga berkaitan dengan sikap etis dasar  seorang manusia terhadap sesamanya dalam komunitas. Tentu saja harus diciptakan dalam fikiran bahwa tiga kelompok ini tidak berjauhan satu sama lain, tetapi sangat dekat berhubungan. Dan ini disebabkan oleh fakta dasar bahwa pandangan dunia Al-Qur’an secara esensial bersifat teosentris. Citra Tuhan meliputi seluruh pandangan ini, dan tidak ada satu pun yang terlepas dari pengetahuan dan pemeliharaanNYA. Ketergantungan dasar etika manusia pada etika ketuhanan timbul dalam bentuk lebih pasti dalam versi berikut. Yaitu yang dengan jelas menyatakan bahwa seseorang harus mencoba mengampuni dan memaafkan sesamanya, karena Tuhan selalu siap memaafkan dan melimpahkan kasih sayang kepada makhluknya.[3]
Adapun tujuan pembahasan dalam judul ini yaitu mengungkap atau meneliti pemikiran Toshihiko Izutsu dalam karya-karya beliau seperti konsep-konsep etika religius dalam Qur’an, etika beragama dalam Qur’an, relasi Tuhan dan manusia, dan mungkin banyak yang lainnya, namun pada saat ini penulis hanya mengambil referensi dari tiga judul buku karya beliau yang tercantum di atas. Mulai dari kajian semantic Al-Qur’an, sejarah istilah-istilah kunci Al-Qur’an, relasi ontologis antara Tuhan dan manusia, prinsip-prinsip analisis semantic, dari aturan kesukuan ke etika islamik, seperti konsepsi pesimistis kehidupan duniawi, semangat solidaritas kesukuan dan lain sebagainya yang ada dalam pembahasan buku karya Toshihiko Izutsu.
Sekarang mudah sekali untuk melihat bahwa kata Al-Qur’an dalam frasa “semantic Al-Qur’an” harus difahami hanya dalam pengertian Weltanschauung. Al-Qur’an atau pandangan dunia Qur’ani, yaitu tentang visi Qur’ani tentang alam semesta. Semantic Al-Qur’an terutama akan mempermasalahkan persoalan-persoalan bagaimana dunia wujid di strukturkan, apa unsur pokok dunia dan bagaimana semua itu terkait satu sama lain menurut pandangan pandangan kitab Suci tersebut.[4]
Berbicara dalam istilah-istilah yang lebih umum, ketika kata-kata tersebut diambil dari kombinasi baku tradisionalnya dan ditempatkan kedalam sebuah konteks yang sama sekali baru dan berbeda, umum diketahui bahwa kata-kata itu cenderung terpengaruh oleh perubahan tersebut. Ini dikenal sebagai pengaruh konteks terhadap makna kata. Kadang dampak ini hanya terasa pada perubahan tak kentara penekanan dan sedikit nuansa serta evokasi emotif, tetapi yang lebih sering adalah perubahan drastic pada struktur makna kata tersebut.[5]
BIOGRAFI TOKOH

Toshihiko Izutsu lahir di Tokyo, jepang,pada tanggal 4 mey 1914. Beliau professor pada lembaga studi kebudayaan dan linguistic, Universitas Keio, Tokyo, dan Profesor tamu pada lembaga studi keislaman Universitas McGill, dimana dia menghabiskan enam bulan setiap tahun untuk mengajar teologi dan filsafat islam. Beliau wafat pada tanggal 1 juli 1993. Berasal dari keluarga yang taat, dia telah mengamalkan ajaran Zen Buddhisme sejak kecil. Bahkan, pengalaman bertafakur dari praktik ajaran Zen sedari muda telah turut memengaruhi cara berpikir dan pencariannya akan kedalaman pemikiran filsafat dan mistisisme. Pendek kata, suasana dan latar belakang keluarga telah membentuk pemikiran Izutsu.
Karya-karya Toshihiko Izutsu antara lain yaitu: dalam bahasa inggris; language and magic: studies in the magical function of speech, Tokyo: Keio University,1956; the structure of the ethical terms in the Koran, Tokyo, Keio University, 1959.(telah direvisi dalam bahasa Indonesia yaitu “etika beragama dalam Qur’an”); kemudian karya lain yaitu  God and Man in the Koran: a semantical analysis of the koranic Weltanschauung, Tokyo:Keio University, 1964: dan the concept of belief in Islamic theology, Tokyo: the Keio Institute of cultural and linguistic studies, 1965.
Tokoh lain yang mempengaruhi pemikiran Toshihiko Izutsu seperti Pembacaan atas Pemikiran Charles J. Adams dan John A. Williams yang merupakan sebagai penyunting keislaman McGill yang mana studi islam di McGill ini bertujuan menyediakan serangkaian terbitan beberapa hasil karya yang diteruskan pada lembaga studi keislaman McGill bagi para sarjana dan masyarakat umum.

OBJEK MATERIAL TOKOH DAN FORMAL
            Toshihiko Izutsu dalam karya-karya dan pemikirannya menurut peneliti bahwa beliau menggunakan Metode Analisa/ Analisis. Ada berbagai cara untuk seseorang untuk mengetahui arti sebuah kata asing. Yang paling sederhana dan yang paling umum, tapi sayangnya kurang sekali dapat diandalkan yaitu dengan mengatakan dengan bahasa orang itu sendiri dengan kata yang sama artinya. Kata Gatte dalam bahasa Jerman, misalnya, berarti sama dengan Husband dalam bahasa Inggris. Dalam cara ini kata Kafir dalam bahasa Arab dapat diartikan sama dengan penganut yang salah, zalim sebagai penjahat, dhab sebagai dosa, dan lain sebagainya.
            Dalam Islam, sebagaimana akan kita lihat selanjutnya, salah satu dasar pikiran dari belief adalah gratitude, thankfulness. Dan ini merupakan imbangan dalam konsepsi al-Qur’an mengenai tuhan sebagai peramah, raja yang pemurah bagi semua manusia dan semua makhluk, hal yang dalam Qur’an tak pernah jemu-jemunya ditekankan tentang kebajikan tuhan yang maha kuasa yang sepenuhnya tak menuntut balas apa saja yang Ia limpahkan kepada seluruh makhluk. Sebaliknya, manusia berutang kepadanya untuk kewajibannya berterimakasih atas kasih saying dan kebaikan-NYA.
            Ketidaksesuaian semantik antara kata-kata dan kesamaan artinya biasanya bertambah jika kita beralih kepada wilayah eksistensi dimana mode visi yang unik cenderung mendominir, dan dimana bahasa yang dibebani dengan tugas memantulkan dan mengungkapkan ciri-ciri kehidupan bangsa yang sesungguhnya secara etis. Memang kita mesti meletakkannya sebagai aturan umum bahwa sebuah kata yang lebih ekspresif mengenai ciri etnis yang berakar mendalam dari kebudayaan tertentu, maka lebih sulit kata itu diubah secara tepat kedalam bahasa lainnya.
            Kata kafir dalam al-Qur’an memperoleh arti sekunder sebagai orang yang tidak percaya pada Tuhan, karna sangat sering timbul dalam kontras dalam kata mu’min, yang berarti orang yang menganggap sesuatu sepenuhnya benar, dan kata muslim berarti orang yang sepenuhnya menyerahkan dirinya kepada kemauan Tuhan. Biasanya banyak dibicarakan bahwa kategori semantik dari sebuah kata cenderung sangat kuat dipengaruhi oleh kata-kata yang berdekatan yang termasuk dalam daerah pengertian yang sama.
Salah satu contoh yang di angkat beliau yaitu yang menekankan secara khusus pada sifat perlawanan yang sangat kuat dan ulet terhadap agama yang terungkap dalam hal jahiliyyah. “ dan ingatlah hari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka kepada mereka dikatakan: kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu saja dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak, dan karena kamu telah fasik, dan ingatlah Hud, saudara kaum ‘Aat, yaitu ketika dia memberi peringatan kepada kaumnya di al-Ahqaf dan sesungguhnya telah terdahulu beberapa orang pemberi peringatan sebelumnya dan sesudahnya dengan mengatakan; janganlah kamu menyembah selain Allah, sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar. Mereka menjawab;, apakah kamu dating kepada kami untuk memalingkan kami dari menyembah tuhan-tuhan kami? maka datangkanlah kepada kami azab yang telah kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Ia berkata; sesungguhnya pengetahuan tentang itu hanya pada sisi Allah dan aku hanya menyampaikan kepadamu apa yang aku di utus dengan membawanya tetapi aku lihat kamu adalah kaum yang bodoh”. (Q.S. al-Ahqaaf,20-21/22-23).[1]

POKOK-POKOK PEMIKIRAN TOKOH
            Dalam buku Consciousness and Reality Makino Shinya, profesor kajian Islam Jepang, menyatakan bahwa penelitian Toshihiko Izutsu menitikberatkan pada masalah hubungan kesadaran dan realitas. Pencarian ini dilakukan melalui bidang kajian Islam (Islamic studies), filsafat bahasa dan perbandingan filsafat. Hakikatnya, karya Izutsu hendak menciptakan sebuah hubungan dialog yang sejati di antara berbagai tradisi kebudayaan atau apa yang disebut oleh Henry Corbin dengan “undialogue dans la metahistoirere” yang sangat penting di dalam situasi dunia sekarang ini. Sejarah kemanusiaan memerlukan satu pemahaman timbal balik di antara pelbagai bangsa dunia. Hal ini bisa diwujudkan – atau sekurang-kurangnya bisa disusun – pada beberapa tingkat kehidupan yang berbeda. Tingkat filsafat adalah salah satu daripadanya, yang menurut Izutsu merupakan paling dasar. Ciri khas dari tingkat filsafat, tidak seperti tingkat kepentingan manusia yang lain yang berhubung dengan situasi kontemporer dan kondisi kekinian, memungkinkan “pemahaman timbal-balik”  yang diwujudkan di dalam bentuk dialog metahistoris. Bentuk dialog semacam ini, jika dilakukan secara metodologis, dipercayai oleh Izutsu, bisa menghablur menjadi sebuah philosophia perennis di dalam pengertian yang utuh. Karena dorongan filsafat daripada pikiran manusia, tanpa mempertimbangkan usia, tempat dan bangsa, hakikatnya dan akhirnya adalah satu.[1]
            Sebagai seorang intelektual termasyhur, Izutsu menguasai lebih daripada dua puluh bahasa asing. Dengan bakat cemerlang ini, dia bisa melakukan penelitian pelbagai kebudayaan dunia dan menerangkan secara khas kandungan dari beranekaragam sistem keagamaan dan filsafat melalui bahasa asalnya. Ketika pada zaman sekarang terdapat kecenderungan untuk mempelajari sesuatu secara khusus, ternyata bidang penelitiannya begitu luas berhubung dengan prinsip-prinsip kebudayaan dunia. Dari sini, sintesis dari pelbagai khazanah  karya di seantero negeri melahirkan pandangan yang jauh lebih menyeluruh dan tak lagi terkungkung dengan padangan sempit tentang ‘kebenaran’ dan keunikan sebuah tradisi tertentu.
            Bidang kegiatan penelitian Izutsu adalah sangat luas yang meliputi filsafat Yunani kuno dan filsafat Barat Abad Tengah hingga mistisisme Islam Arab dan Persia, filsafat Yahudi, filsafat India, pemikiran Confusianisme, Taoisme Cina, dan filsafat Zen. Keluasaan pengetahuan sarjana tersebut pada gilirannya memungkinkan untuk melihat persoalan tertentu dari pelbagai perpektif, sehingga akan melahirkan pandangan yang menyeluruh tentang satu masalah. Di dalam karya-karyanya, dia menunjukkan keaslian dan keunikan pemikirannya melalui penyusunan terhadap dasar-dasar teoretis yang rumit yang pada saat yang sama didasarkan pada sebuah pengetahuan yang luar biasa terhadap teks-teks utama yang cukup untuk meyakinkan para ahli di dalam kajian masing-masing. Selain itu, saya menemukan banyak karangannya yang disertakan dengan contoh-contoh keseharian sehingga memudahkan pembaca untuk memahami konsep pemikiran yang abstrak. Tambahan lagi, di dalam beberapa karyanya, dia kerap menggunakan diagram atau gambar dalam menerangkan sebuah teori atau pemikiran.[2]
ANALISIS TERHADAP TOKOH
            Kajian al-Qur’an kontemporer yang dilakukan oleh para sarjana Barat di penghujung abad ke-20 diwarnai oleh terbentuknya sebuah konsorsium guna membentuk The Encyclopedia of the Qur’an yang berhasil terbit untuk pertama kalinya di tahun 2002 dengan dewan editorial yang dikepalai oleh Jane Dammen McAuliffe, dibantu oleh beberapa nama terkenal seperti Claude Gilliot dan Andrew Rippin. Kontributor dari ensiklopedi ini tidak hanya kalangan sarjana Barat, tetapi juga melibatkan kalangan sarjana Muslim, bahkan sebagai dewan penasehat seperti Muhammed Arkoun dan Nasr Abu Zayd. Beberapa nama orientalis generasi baru yang tercatat dalam dewan penasehat adalah Gerhard Bowering, Gerald R. Hawting, Frederik Leemhuis, Angelika Neuwirth, dan Uri Rubin. Selain mereka yang terlibat dalam proyek Encyclopedia of the Qur’an, beberapa sarjana Barat yang konsern dalam studi al-Qur’an kontemporer adalah Alan Godlas yang memusatkan kajiannya pada perkembangan penafsiran corak mistik terhadap al-Qur’an, Herbert Berg, Fred M. Donner, Gabriel Said Reynolds, Gregor Schoeler, Stefan Wild, dan masih banyak lagi nama-nama yang banyak memberikan kontribusi pada perkembangan kajian hermeneutika al-Qur’an dengan beragam coraknya.

            Seperti sudah disuarakan sebelumnya oleh T. Andrae, dalam kesarjanaan Barat sejak paruh pertama abad ke-20 muncul pengakuan bahwa Islam didasarkan pada wahyu asli yang diterima oleh Muhammad. Dari kalangan sarjana Katolik, Louis Massignon menegaskan bahwa melalui wahyu asli yang diterimanya, Muhammad mampu menangkap keesaan Tuhan (tauhid). Seiring dengan lengkapnya wahyu, Muhammad mengetahui bahwa asal usul bangsa Arab merujuk pada figur Ismail yang disebut dalam Bible. Di sini, wahyu dalam Islam bisa dianggap sebagai “jawaban misterius terhadap rahmat Tuhan dalam do’a Ibrahim untuk Ismail dan bangsa Arab” yang tidak perlu dipertentangkan. Di sini, semangat kesatuan (tauhid) yang dibawa Massignon, tidak saja merefleksikan pandangannya terhadap keaslian yang sama dari 3 agama semitik yang ada, tetapi juga menemukan kecocokan agama Katolik yang dianutnya dengan doktrin Islam tentang tasawwuf. Satu kritik yang menandaikelemahan penelitian Massignon tentang tasawwuf dalam bukunya Passion d’ al-Hallaj adalah lantaran pribadi al-Hallaj sendiri dianggap sebagai figur marjinal dalam Islam.
Menurut Muhammad Syahrur, sejak orientalis asal Jepang, Toshihiko Izutsu (1914-1993) pertama kali menerbitkan karyanya, Ethico-Religious Concepts in the Quran pada tahun 1950, pengaruh metodologi Barat terhadap paradigma interpretasi dan penafsiran terhadap al-Qur’an dengan model pendekatan ilmu linguistik dan kesejarahan (historis) , atau yang kemudian terkenal dengan istilah pendekatan hermeneutika, dapat ditelusuri pada karya-karya pemikir muslim, sebagai hasil dari interaksi intelektual yang intensif antara dunia akademis Muslim dengan tradisi keilmuan Barat.
Menurut catatan ‘Abd al-Rahmān al-Hāj Ibrāhīm pengaruh pendekatan ala Barat ini mulai terlihat cikal bakalnya secara jelas di dunia Arab pada khususnya dan dunia Muslim pada umumnya saat seorang intelektual Sudan bernama Muhamad Abū Al-Qāsim Hāj Hamd pertama kali pada tahun 1979, mengeluarkan hasil studinya yang berjudul “Al-‘Ālamiyah al-Islāmiyah al-Tsāniyah”.

KESIMPULAN
Dari pembahasan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
Toshihiko Izutsu lahir pada 4 Mei 1914 dan wafat pada 1 Juli 1993. Beliau  dilahirkan dalam sebuah keluarga kaya pemilik bisnis di Jepang. Sejak usia dini, ia akrab dengan Zen meditasi dan teka-teki, karena ayahnya juga seorang ahli kaligrafi dan Buddha Zen praktisi awam. Beliau masuk fakultas ekonomi, Universitas Keio, tetapi dipindahkan ke departemen sastra Inggris, berharap akan diperintahkan oleh Profesor Junzaburō Nishiwaki. Ia menjadi asisten riset pada tahun 1937, setelah lulus dengan gelar BA.
Analisis semantik Toshihiko Izutsu menghasilkan alternatif baru penafsiran al Qur’an secara obyektif sesuai dengan makna awal ketika wahyu al Qur’an diturunkan dan mempermudah adaptasinya dengan kehidupan sekarang.
Semantik adalah suatu studi dan analisis tentang makna-makna linguistik. Maksudnya, semantik merupakan suatu ilmu yang menelaah lambang-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain. Dengan demikian mencakup makna kata, perkembangan dan perubahannya. Makna merupakan obyek kajian semantik, karena ia berada dalam satuan-satuan dari bahasa berupa kata, frase, klausa, kalimat, paragraf dan wacana. Dengan demikian  fungsi dari simantik adalah untuk memunculkan tipe ontologis yang “dinamik” dari al-Qur`an dengan penelaahan kritis dan metodologis terhadap konsep-konsep pokok, yaitu konsep-konsep yang tampaknya memainkan peran menentukan dalam pembentukan visi al-Qur`an tentang semesta, realitas. Hal ini akan menghasilkan konsekuensi adanya kemestian mencermati seluruh konsep-konsep kunci dalam al-Qur`an. Yang bertujuan untuk menganalisis al Qur’an dan menyingkap makna dan merekonstruksi pandangan keduniaan dari al Qur’an.[1]
Adapun tujuan pembahasan dalam judul ini yaitu mengungkap atau meneliti pemikiran Toshihiko Izutsu dalam karya-karya beliau seperti konsep-konsep etika religius dalam Qur’an, etika beragama dalam Qur’an, relasi Tuhan dan manusia, dan mungkin banyak yang lainnya, namun pada saat ini penulis hanya mengambil referensi dari tiga judul buku karya beliau yang tercantum di atas. Mulai dari kajian semantic Al-Qur’an, sejarah istilah-istilah kunci Al-Qur’an, relasi ontologis antara Tuhan dan manusia, prinsip-prinsip analisis semantic, dari aturan kesukuan ke etika islamik, seperti konsepsi pesimistis kehidupan duniawi, semangat solidaritas kesukuan dan lain sebagainya yang ada dalam pembahasan buku karya Toshihiko Izutsu.
Sekarang mudah sekali untuk melihat bahwa kata Al-Qur’an dalam frasa “semantic Al-Qur’an” harus difahami hanya dalam pengertian Weltanschauung. Al-Qur’an atau pandangan dunia Qur’ani, yaitu tentang visi Qur’ani tentang alam semesta. Semantic Al-Qur’an terutama akan mempermasalahkan persoalan-persoalan bagaimana dunia wujid di strukturkan, apa unsur pokok dunia dan bagaimana semua itu terkait satu sama lain menurut pandangan pandangan kitab Suci tersebut

 Semoga apa yang kami posting pada blog ini bermanfaat bagi pembacanya….!!!
Amien yaa Robbal Alamien…

DAFTAR PUSTAKA:
1)      “Relasi Tuhan dan Manusia”. Pendekatan semantic terhadap al-Qur’an. Toshihiko Izutsu. Pengantar: Dr.Machasin
2)      Toshihiko Izutsu “Etika beragama dalam Qur’an” revisi dari the structure of the ethical terms in the Koran.
3)      Creation and the Timeless Order of Things: Essays in Islamic Philosophy (Ashland, Oregon: White Cloud Press, 1994).
4)      “konsep-konsep Etika Religius dalam Qur’an” Toshihiko Izutsu- penerjemah: Agus Fahri Hussein; Yogyakarta. Tiara Wacana yogya 1993.
5)      Rekontruksi Sejarah Al-Qur’an, taufiq adnan amal, forum kajian budaya dan agama (FKBA)
6)      http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=377:sekilas-tentang-kajian-orientalis-terhadap-al-quran&catid=43:aliran-menyimpang&Itemid=103




[1] Rekontruksi Sejarah Al-Qur’an, taufiq adnan amal, forum kajian budaya dan agama (FKBA)








[1] Sila rujuk Izutsu, A Comparative Study of The Key Philosophical Concepts in Sufism and Taoism (Tokyo: The Keio Institute of Cultural and Linguistic Studies, 1967), hlm. 191.
[2] Creation and the Timeless Order of Things: Essays in Islamic Philosophy (Ashland, Oregon: White Cloud Press, 1994).






[1] “etika beragama dalam Qur’an”. Toshihiko Izutsu.hlm:51-56







[1] http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=377:sekilas-tentang-kajian-orientalis-terhadap-al-quran&catid=43:aliran-menyimpang&Itemid=103
[2] “Etika beragama dalam Qur’an” karya Toshihiko Izutsu. Hlm: 25
[3]etika beragama dalam Qur’an” buku karya Toshihiko Izutsu. Hlm 27-29
[4] “relasi tuhan dan manusia” pendekatan semantic terhadap Al-qur’an. Buku karya Toshihiko Izutsu. Hlm:3
[5] “relasi tuhan dan manusia” pendekatan semantic terhadap Al-qur’an. Buku karya Toshihiko Izutsu. Hlm:4-5

2 komentar:

  1. Terima kasih atas postingannya,,
    jazakallah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyya sama2 Kang...
      smoga bisa bermanfaat bagi semua yg membacanya...

      Hapus